Welcome to IKUTBET Situs Resmi Agen Bola EURO 2016 Terpercaya yang memberikan kemudahan dan kenyamanan transaksi bermain betting online, casino online, poker online, togel online dan bola tangkas dengan support dan pelayanan 24/7.

Maradona Tangan Tuhan Maldini Pali Kaki Emas

Agen Bola OnlineSepakbola Indonesia sedang bergairah dengan lahirnya talenta-talenta mumpuni yang diperlihatkan Garuda Muda U-19. Evan Dimas, Ilham Udin Armaiyn, dan tentunya Maldini Pali.

Agen Taruhan Bola Online – Maldini Pali menjadi salah satu pemain andalan yang mengisi posisi sayap kanan Indonesia Muda. Siapa Maldini Pali? Dialah anak muda asal Mamuju, Sulawesi Barat. Sanjungan begitu tinggi terhadapnya. Padahal awalnya dia pemuda biasa yang latihan ringan di lapangan multifungsi milik Kodim 1418 Mamuju, Lapangan Merdeka, bersama puluhan pemuda Mamuju lainnya.

Dialah salah satu anak emas dari jazirah Sulawesi saat ini. Tidak salah, publik memberikan apresiasi. Remaja asal pegunungan Mamuju ini kini menjadi idola bangsa Indonesia.

Adalah hal yang lumrah sekiranya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat kemudian memberikan apresiasi berupa bonus rumah seharga Rp680 juta untuk anak muda ini.

Siapa dia, bagaimana perjalanan kariernya, apa motivasi yang melatarbelakanginya, apa mimpinya, dan paling menarik kenapa namanya Maldini yang sama dengan legenda sepakbola Itali, Cesare Maldini dan Paolo Maldini? Berikut petikan wawancara khususnya:

Selamat atas prestasinya. Bagaimana perasaan Anda yang kini sudah menjadi ‘bintang’ dan bukan lagi sebagai pesepakbola kampung?

Saya bukan bintang, saya belum merasa berhasil. Saya tetap Maldini seperti dulu yang masih butuh berlatih. Memang, dari segi posisi sekarang saya senang. Hati saya sangat luas, bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia dan Sulbar. Dan Mamuju menjadi salah satu kota pencetak sepakbola handal dari satu klub sepakbola.

Selain Maldini, siapa yang sudah pernah menyandang gelar Timnas asal Mamuju?

Rian R. Dia biasa dipanggil Rian Fabregas. Usianya memang masih muda tapi dari sisi prestasi Rian itu senior saya. Dia pencetak gol terbanyak PSSI U 12 di Yogyakarta tahun 2012. Meski Indonesia menjadi runner up karena kalah adu penalti dengan Malaysia.

Apakah Anda pernah bermimpi perjalanan karier mengocek si kulit bundar akan sebersinar saat ini?

Mimpi pernah, tapi tidak mengira sampai seperti ini. Sebelum di U 19, saya masuk timnas U 15 dan U 16. Kemudian U 17 dan 18 di Sociedad AnĂ³nima Deportiva (SAD) Uruguay.

Bisa diceritakan awal perjalanan Anda mengenal dunia sepakbola?

Kenal sepakbola memang dari kecil dan pertama tahu betul soal sepakbola saat melihat Liga Italia, Juventus lawan Lecce, tahun 2004. Dari situ lah saya mulai tertarik dengan sepakbola. Ketika itu saya masih kelas 2 SD. Dan waktu itu tidak pernah terpikir akan seperti ini.

Even nasional pertama yang saya ikuti adalah Haornas 2006 mewakili Palangkaraya Kalteng karena saya SD di sana. Setelah itu ke Sulbar ikut Popda dan Popwil, Menpora cup mewakili PSM Makassar, dan Timnas U 15. Sebelumnya saya mengikuti ajang regional Liga Tasha Centre pada tahun 2006 dan kalah. Waktu itu kami memang masih belum tertata dengan rapi. Asal ikut main saja, tanpa dukungan apapun.

Siapa yang paling memotivasi?

Orang tua. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Salah satu yang paling utama adalah memperbaiki rumah yang sudah lapuk. Selanjutnya pelatih Muh. Irfan Rahman atau Ipang yang memperkenalkan saya pada teknik sepakbola. Dia lah yang pertama kali membentuk pola bermain saya. Dia juga yang selalu mengingatkan saya untuk tidak selalu merasa puas.

Bisa diceritakan pengalaman paling menarik atau mengesankan dalam perjalanan karier Anda?

Mengiktui Liga Ramadhan Cup di Makassar 2011. Waktu itu klub Peluru Sindo baru terbentuk. Kami mewakili Mamuju sekaligus Sulbar. Perjalanan ke sana susah. Dan paling mengesankan saat ban mobil kempes. Seluruh tim sempat tidur beberapa jam di tepi jalan. Sukanya, semua dilalui bersama dan kami juara 3.

Pemain Idola Anda?

Lionel Messi dan Adreas Iniesta dari Barcelona. Kalau nasional, Titus Bonay. Mereka semua menginspirasi permainan saya, meski pada posisi yang berbeda. Tapi tekniknya yang sangat baik.

Banyak yang ingin mengetahui, kenapa nama Anda Maldini? Apakah orangtua Anda penggemar sepakbola Italia? Atau memang sejak awal sudah punya mimpi agar anaknya menjadi pemain sepak bola terkenal seperti Cesare Maldini dan Paolo Maldini?

Menurut kisah orang tua, awalnya saat di ibu di USG. Dokter kandungan bilang, ibu mengandung anak kembar. Jadi orang tua mempersiapkan dua nama, Maldini dan Mancini. Ternyata hanya seorang sehingga namanya Maldini. Bapak saya memang suka Liga Italia yang permainannya cepat. Terutama pada Paolo Maldini karena di usia 17 tahun sudah masuk timnas Italia. Kalau Mancini dinilai sebagai pelatih italia yang sangat jeli dan teliti.

Apakah ayah Anda pemain sepakbola atau penggemar olahraga sepakbola?

Pernah bermain untuk Persepar Palangkaraya. Tapi terhenti karena kena cedera lutut.

Apa target Anda selanjutnya setelah U-19?

Bermain di luar negeri. Mudah-mudahan ada tim luar yang memanggil saya. Targetnya bisa bermain di Eropa. Di Inggris dan Spanyol. Australia pun mau. Tapi saya pun pasti tidak akan menolak jika saya diminta bergabung kembali ke Timnas.

Anda salah satu pemain yang mengantarkan Indonesia lolos ke Piala Asia dengan mengalahkan sang juara bertahan Korea. Bagaimana perasaaan Anda?

Ya, sangat senang karena bisa mengalahkan juara bertahan. Apalagi Korea peringkat 4 untuk U 20 dan 12 kali juara Asia. Rahasianya semangat tim. Puas juga saat bisa melewati dua pemain Korea dan memberi assist terciptanya gol kedua. Ketika itu saya merasa ingin lagi, lagi dan lagi. Korea memang bagus, skillnya rata. Tapi mereka lemah di kecepatan karena postur tubuh mereka tinggi besar.

Bisa digambarkan sedikit, bagaimana perasaan Anda saat menghadapi Korea yang bisa dikatakan momok?

Sebelum main dengan korea perasaan saya dan teman-teman biasa saja. Bahkan sebelum latihan kami santai dan bercanda. Kami sudah bertekad apapun negaranya, kami lawan. Justru yang paling diperhitungkan adalah Vietnam.

Harapan Anda untuk sepakbola Indonesia?

PSSI harus bersatu dan akur secepatnya. Yang paling utama, gaji pemain jangan ditunggak. Profesional lah sesuai kerja di lapangan. Fair play pemain juga harus ditingkatkan. Sepakbola ini olahraga, bukan wadah perkelahian. Dan jumlah pemain sepakbola di lapangan itu 11 orang, bukan seorang diri.

Sekarang, rakyat Indonesia punya harapan besar pada talenta pemain-pemain U-19. Apakah menjadi beban?

Waduh, saya tidak pernah terpikir itu. Yang pasti kami semua hanya fokus pada satu tujuan, memenangkan setiap pertandingan. Termasuk menikmati kemenangan dan terutama masa istirahat ini. Saya sendiri berusaha untuk terhindar dari semua yang bisa mengalihkan atau bahkan mengurangi konsentrasi.

Dalam kaca pandang Anda, mampukah U-19 ini dijadikan harapan Bangsa Indonesia masuk final Piala Dunia 8 tahun mendatang?

Saya percaya bisa. Kami dalam kondisi percaya pada kemampuan sendiri. Yang penting, komposisinya jangan dibongkar. Demikan juga dengan coach Indra Sjafri dan timnya jangan diganti.

Beberapa waktu lalu, Pemrov Sulbar memberikan hadiah rumah dan bonus. Apakah itu cukup melecut semangat Anda untuk semakin berprestasi?

Pasti, apalagi memang sejak awal saya ingin memperbaiki rumah. Saya semakin termotivasi lagi. Hadiah dari pak Gubernur itu sangat luar biasa, bukan untuk saya. Tapi untuk orang tua saya.

Apakah hadiah dan bonus seperti itu penting untuk memotivasi anak-anak muda berprestasi?

Kalau hadiah itu saya kira perlu ya. Soal bentuknya bergantung dari yang memberi. Yang pantas-pantas saja lah. Hanya barangkali pak Gubernur tahu keinginan saya, sehingga beliau memberikan hadiah seperti itu.

Banyak yang bilang, U-19 jangan dikenalkan dengan infotainment dan bintang iklan. Bagaimana menurut Anda?

Saya setuju. Iklan dan politik tidak boleh. Sebab kami belajar dari senior. Coach Indra Safri sendiri pernah menyampaikan bahwa jangan terlalu banyak tampil di infotainment. Jangan dulu ambil tawaran iklan, agar fokus tidak terbagi.

Apakah itu juga menjadi ketakutan Anda atau bahkan Anda siap menerima tawaran jadi bintang iklan?

Untuk sekarang tidak dulu. Saya harus patuh pada pelatih. Nanti lah kalau sudah tidak main bola lagi.

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes